SOLO – Hujan deras dan udara dingin mengguyur Okazaki Chuo Sogo Park saat pemanah putri Indonesia, Noviera Ross, berlaga di perebutan medali perunggu nomor individu Asian Para Games 2026 di Aichi-Nagoya, Sabtu (24/10/2026). Ia gagal membawa pulang medali dari nomor itu. Namun Noviera tidak pulang dengan tangan hampa. Sehari sebelumnya, ia sudah mengalungkan medali perak dari nomor mixed team recurve.
"Kemarin sudah mendapatkan medali perak di mixed team. Itu sudah sebuah kebanggaan banget untuk aku sendiri," ujar Noviera.
Bagi perempuan asal Kabupaten Bogor, Jawa Barat ini, berdiri di panggung Asia adalah hal yang dulu tak pernah ia bayangkan. Bertahun-tahun lalu, ia sempat mengira masa depannya sudah selesai.
Pasangan atlet Indonesia Ross Noveira (kiri) dan Kholkidin (kiri) berpose menunjukan medali usai pertandingan melawan pasangan China Lixue Zhao dan Xueqian Wang pada final ganda campuran panahan recurve Asian Para Games 2026 di Okazaki Chuo Sogo Park, Aichi, Jepang, Jumat (23/10/2026). Pasangan Indonesia memperoleh medali perak setelah ada final dikalahkan pasangan China dengan skor 1-5. NPC INDONESIA/Mohammad Ayudha
Selama lebih dari seminggu di Jepang, Noviera harus beradaptasi dengan cuaca yang berubah-ubah. Kondisi itu jauh berbeda dengan suasana latihan di tanah air.
"Setiap harinya cuacanya berubah-ubah banget. Dari panas, ke dingin, panas banget, hujan. Hari ini dapat lagi ujiannya, dapat hujan yang lumayan deras, ke badan dingin banget. Yang biasanya di Indonesia itu hangat, perubahannya di sini dingin. Tapi alhamdulillah masih bisa berjuang sampai titik terakhir," tuturnya.
Lawannya di perebutan perunggu, pemanah China, baru pertama kali ia hadapi. Noviera menerima kekalahan itu dengan lapang dada.
"Mungkin rezekinya belum bisa dapat medalinya. Tapi buat aku juga kebanggaan bisa bersaing sama dia. Setiap pertandingan aku akan dapat pelajaran baru, dan pelajarannya banyak banget di sini," katanya.
Pasangan atlet Indonesia Kholidin (kiri) dan Ross Noveira (kanan) saat bertanding melawan pasangan China Lixue Zhao dan Xueqian Wang pada final ganda campuran panahan recurve Asian Para Games 2026 di Okazaki Chuo Sogo Park, Aichi, Jepang, Jumat (23/10/2026). Pasangan Indonesia memperoleh medali perak setelah ada final dikalahkan pasangan China dengan skor 1-5. NPC INDONESIA/Mohammad Ayudha
Kisah Noviera bermula dari sebuah kecelakaan saat ia duduk di kelas 3 SMP. Hari itu adalah hari pertama Ujian Nasional. Dalam perjalanan ke sekolah, motor yang ia tumpangi diserempet pengendara lain. Noviera jatuh dan kaki kanannya tertimpa motor, sehingga tulang betisnya patah di dua tempat.
"Aku sebenarnya nggak tahu kejadiannya, aku nge-blank langsung. Jatuh di tempat, kaki kanan ketiban motor. Di betisnya ada dua patahan," kenangnya.
Luka luar yang tampak ringan membuat keluarga memilih membawanya ke pengobatan tradisional. Pilihan itu justru memperparah keadaan. Kakinya terinfeksi, dan Noviera harus menjalani perawatan di rumah sakit dengan alat penyangga kaki selama tiga tahun.
"Ternyata tulangnya sudah nyambung, tapi dagingnya tidak terselamatkan. Sudah tiga tahun, rasanya capek banget. Sudah ngerepotin mama, bapak, hampir mau jual rumah, karena setiap tiga hari sekali harus ganti perban," ungkapnya.
Dokter akhirnya menyarankan amputasi. Noviera memutuskan menerimanya, sebagian karena ia ingin kembali bergerak seperti teman-temannya.
"Aku iri dengan teman-teman, karena lihat teman-teman sudah pada lulus SMA, aku tiga tahun di rumah nggak ngapa-ngapain. Ya sudah, aku mau deh diamputasi," tuturnya.
Atlet para panahan Indonesia Noveira Ross (kanan) didampingi pelatih Idya Putra Harjianto (kiri) saat jeda pertandingan melawan atlet China Xueqian Wang pada nomor para recurve putri Asian Para Games 2026 di Chuo Sogo Park Multipurpose Square, Okazaki, Jepang, Sabtu (24/10/2026). Noveira kalah dengan skor 0-6. NPC INDONESIA/Dwi Prasetya.
Ia masih ingat air matanya mengalir tanpa ia sadari saat dokter menyampaikan kabar itu. Namun setelah amputasi, yang ia rasakan justru kelegaan.
"Karena aku ikhlas, pas proses amputasinya itu aku nggak merasa sedih sama sekali. Aku merasa kayak beban tuh sudah hilang. Selama tiga tahun aku merasakan sakit terus-menerus. Ya sudah, nggak ada kaki sebelah, nanti aku pakai kaki palsu, sudah bisa jalan," ujarnya.
Setelah amputasi, banyak orang di sekitarnya memandang masa depannya dengan pesimis.
"Dulu pas awal-awal diamputasi, 'Sudah lah, nikah aja,' kayak nggak ada masa depannya. Kalau kerja, kerjaan apa yang bisa nerima," kenangnya.
Titik balik datang pada 2018, saat seorang pelatih atletik mengajaknya bergabung dengan NPC Kabupaten Bogor. Awalnya, Noviera disiapkan untuk lempar cakram. Ia sendiri belum pernah mengenal olahraga disabilitas.
"Sekeliling rumah itu nggak ada yang [disabilitas], cuma aku aja. Jadi kayak, olahraga apa, ya, orang kakinya sudah nggak ada. Diajaklah ke NPC. Ternyata banyak yang lebih dari aku, di situ juga banyak-banyak bersyukur," katanya.
Saat itu, panahan Kabupaten Bogor belum punya atlet putri. Noviera menerima tawaran itu meski belum pernah memegang busur. Pada tahun yang sama, ia langsung meraih emas di Pekan Paralimpik Daerah (Peparda). Prestasinya terus menanjak: emas beregu campuran di Peparnas Papua 2021, kemudian tampil di Peparnas Solo 2024, hingga akhirnya dipanggil ke pelatnas.
"Nggak ada mimpi juga sama sekali untuk sampai di sini. Tidak semua teman-teman bisa sampai di sini, sebagai perwakilan dari daerah," ujarnya.
Di balik perjalanannya, ada sosok ayah yang awalnya khawatir melepas anak bungsunya berlatih jauh dari rumah. Namun begitu Noviera menunjukkan hasil, sang ayah berbalik menjadi pendukung terbesarnya. Sayangnya, ayahnya berpulang sebulan sebelum Peparnas Papua 2021.
Manager tim Indriyani (kedua kiri), atlet para panahan Indonesia Setiawan (dari kiri), Kholidin dan Noviera Ross, berkoordinasi saat mengikuti latihan resmi Asian Para Games 2026 di Okazaki Chuo Sogo Park, Jepang, Kamis (15/10/2026). Tim Indonesia membidik dua tiket final dari sembilan nomor yang diikuti. NPC INDONESIA/Dwi Prasetya.
"Emas itu sebenarnya bener-bener kayak aku janji sama bapak, 'Ya, emas ini buat bapak.' Karena kan bapak yang support terus. Tapi pas aku dapat hasil itu, bapak sudah nggak ada," kenangnya.
Kini, ibunya tinggal sendiri di rumah. Setiap kali menelepon, sang ibu selalu menanyakan kapan anaknya pulang.
"'Mama kangen, kapan pulang?' 'Ya, Mah, doain aja anaknya lagi berjuang,'" tutur Noviera menirukan percakapan mereka.
Dari panahan, Noviera kini bisa membantu menghidupi ibunya.
"Bisa menghidupi mama sedikit-sedikit, walaupun mama harus sedih juga ditinggal sama anak bungsunya. Tapi setidaknya, semoga mama sama bapak bangga," ucapnya.
Dukungan besar juga datang dari suaminya, yang tak lain adalah pelatihnya di Kabupaten Bogor. Mereka bertemu di lapangan panahan.
"Dia pelatih aku di Kabupaten Bogor, jadi kita cinlok. Sama pelatih di sini juga bisa sharing, cuma untuk feeling kan beda. Sama suami aku bisa keluh kesah, ngeluarin semuanya, lebih nyaman," ujarnya sambil tersenyum.
Setiap keputusan penting dalam kariernya, termasuk menerima panggilan pelatnas, selalu ia ambil bersama sang suami.
"Tanpa dia aku nggak di sini, jujur. Aku cuma minta ridho. Alhamdulillah suami ridho, mertua juga merestui aku di sini," katanya.
Usai Asian Para Games, Noviera akan kembali mengikuti program pelatnas untuk memburu kuota Paralimpiade Los Angeles 2028. Pelatih tim panahan menyebut babak kualifikasi penting akan digelar di Australia.
Bagi wanita kelahiran 18 November 1996 ini, setiap langkah ke depan adalah bonus dari hidup yang dulu ia kira sudah berakhir.
"Yang aku kira masa depanku sudah selesai, yang cuma pada umumnya perempuan di rumah. Ternyata Allah kasih rezekinya malah lebih. Aku malah bisa membanggakan semua orang, bawa nama baik Indonesia. Benar-benar merasakan kuasa Allah banget," pungkasnya.