shape
Pencarian
pattern pattern

Profil Ketua Umum

senny marbun

Ketua Umum NPC Indonesia

Senny Marbun

Nama Senny Marbun saat ini berdiri tegak sebagai Bapak Olahraga Disabilitas Indonesia, sosok sentral dan tak tergantikan di balik masa keemasan National Paralympic Committee (NPC) Indonesia. Namun dalam membesarkan organisasi olahraga penyandang disabilitas berbasis Paralimpiade ini,  beliau telah mengalami rekam jejak kehidupan yang jauh lebih keras, gelap, dan berdarah-darah. Kisah luar biasa tentang seorang manusia yang menolak tunduk pada keadaan, melawan stigma dunia, dan pada akhirnya, menulis ulang takdirnya sendiri dengan kedua tangannya yang sempat tak dianggap. Melalui lembar demi lembar biografi ini, pembaca disuguhkan sebuah tema akan bagaimana sebuah pemberontakan dan kemarahan yang ekstrem dapat bertransformasi menjadi sebuah dedikasi yang sama ekstremnya. Bagaimana seorang Senny Marbun dengan disabilitas yang tadinya terpinggirkan, kehilangan arah, dan bahkan sempat terbuang oleh kerasnya jalanan akhirnya menemukan tujuan hidup dan harga dirinya melalui olahraga. Bagi beliau, di tengah keputusasaannya mencari kebebasan, olahraga bukanlah sekadar ajang untuk meraih medali. Olahraga adalah satu-satunya sekoci penyelamat yang menariknya dari jurang kehancuran dan mengembalikan martabatnya sebagai manusia seutuhnya.

Dimulai dari akar kedisiplinan dalam keluarga militer, hantaman demam polio di masa kecil yang merenggut kebebasan fisiknya, hingga pelariannya di dunia kelam sebagai preman Solo dan pengedar narkoba di jalanan ibu kota. Namun, di tengah keterpurukan tersebut, kisah ini juga merekam titik-titik balik yang menyelamatkannya—dari pencarian jati diri di panggung-panggung musik Surabaya, hingga momen keajaiban di tahun 1982 yang membawanya ke lintasan tolak peluru di Hong Kong. Dari seorang anak jalanan yang marah pada dunia, Senny Marbun akhirnya bermetamorfosis menjadi ikon nasional yang mengangkat harkat, derajat, dan kesejahteraan jutaan penyandang disabilitas di seluruh Indonesia.

Kisah Senny Marbun tidak dimulai dari panggung gemerlap atau arena olahraga, melainkan dari tempaan keras kehidupan sebuah keluarga militer. Sebagai anak seorang prajurit, masa kecil Senny diwarnai dengan dinamika perpindahan tempat tinggal yang konstan, menuntutnya untuk selalu mencabut akarnya dan beradaptasi dengan lingkungan yang benar-benar baru. Di tengah ketidakpastian ruang tersebut, Senny kecil harus menjalani realitas emosional yang tak kalah berat: ia tumbuh tanpa dekapan ibu kandungnya dan dibesarkan oleh ibu sambungnya. Lingkungan rumah yang kaku, sarat akan kedisiplinan khas militer, serta kerinduan akan kehangatan kasih sayang orang tua, perlahan membentuk fondasi karakter Senny menjadi sosok yang keras, berani, namun sesungguhnya menyimpan dahaga yang besar akan kebebasan. Namun, badai yang sesungguhnya datang merenggut masa kecilnya dengan cara yang paling tidak terduga dan menyayat hati. Sebuah serangan demam tinggi yang ganas berujung pada vonis polio, menjadi titik balik paling traumatis dalam fase pertumbuhannya. Penyakit mematikan pada masa itu tidak hanya menghentikan pertumbuhan fisik normalnya, tetapi secara perlahan membuat kakinya mengecil dan kehilangan tenaga. Bayangkan kepedihan psikologis seorang anak laki-laki yang lahir di tengah kultur militer—sebuah dunia yang sangat mengagungkan kesempurnaan dan ketangguhan fisik, tiba-tiba harus menerima kenyataan bahwa tubuhnya sendiri telah berkhianat dan memenjarakannya. Bagi Senny, polio menjadi awal dari hilangnya makna dan motivasi dalam perjalanan hidupnya. Di sinilah letak puncak tragedi emosional dari seorang Senny muda. Cacat fisiknya tidak melahirkan harapan, melainkan melahirkan sebuah keputusasaan yang sangat gelap. Ia menolak keras untuk dikasihani, karena setiap tatapan iba dari orang-orang di sekitarnya adalah hinaan yang membakar harga dirinya.

Keputusannya untuk memberontak dan turun menjadi anak jalanan menjadi cara cepat untuk mencari kekosongan diri yang dihadapinya. Kehilangan kepercayaan pada masa depannya, Senny merasa tubuhnya yang rusak membuatnya tak pantas dan tak ingin hidup lama-lama. Hasratnya yang ekstrem untuk "bebas" di jalanan sesungguhnya adalah manifestasi dari keinginannya untuk merengkuh kematian lebih cepat. Daripada hidup perlahan dalam belas kasihan orang lain, ia memilih hidup sembrono, menantang bahaya di jalanan, seolah-olah berlari memeluk akhir hidupnya sendiri. Akar dari kekerasan dan pemberontakan Senny bermula jauh sebelum ia menginjak usia remaja, tepatnya ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar di Surabaya. Di sana, di tengah lingkungan yang belum bisa menerima perbedaannya, ia harus menelan pil pahit berupa ejekan dan perundungan tiada henti dari teman-temannya. Luka batin akibat ledekan di Surabaya itulah yang pertama kali memicu insting bertahannya: ketika dunia merendahkannya, ia memilih membalas dengan kepalan tangan. Kepindahannya ke Solo pada saat ia menginjak kelas 5 SD untuk bersekolah di YPOC (Yayasan Pembina Olahraga Cacat) seharusnya menjadi tempat yang aman dan penuh pengertian. Namun, bagi jiwa yang telanjur terluka, dinding-dinding sekolah baru pun tak mampu meredam amarahnya yang memuncak. Rasa frustrasi dan agresi itu terus membesar seiring pergantian usianya. Puncak dari kebrutalan emosional ini meledak ketika Senny menginjak bangku SMP, di mana ia senekat itu membawa senjata api ke sekolah—sebuah simbol keputusasaan yang mengerikan dari seorang remaja yang merasa harus mempersenjatai dirinya hingga titik maksimal untuk membalas dendam pada dunia.

Jalanan kota Solo kemudian menjadi kanvas bagi pelariannya yang sesungguhnya. Bersama teman-temannya yang senasib, Senny membentuk sebuah geng jalanan yang dinamakan Geng RC (Rehabilitasi Centrum). Namun, di balik cap sebagai preman yang ditakuti, tersimpan sebuah ironi yang menyentuh hati: seringkali pukulan yang ia layangkan bukanlah untuk kepentingannya sendiri, melainkan untuk membela teman-temannya yang tertindas. Di dunia yang keras itu, Senny menemukan nilai kemanusiaannya melalui kesetiakawanan dan solidaritas tanpa batas. Integritas jalanannya pun tak bisa dipandang sebelah mata. Meskipun ayahnya adalah seorang perwira menengah berpangkat Letnan Kolonel (Letkol), Senny pantang menjual nama ayahnya setiap kali ia ditangkap polisi. Ia memilih menanggung semua resiko dan siksaan fisik sendirian, menolak keras bangku perkuliahan, dan memilih jalanan sebagai tempat pelariannya. Namun, fase paling kelam dalam epik ini mencapai titik nadir ketika ia mengadu nasib ke Jakarta. Terhimpit beban bertahan hidup dari mencuci mobil, ibu kota perlahan menelan pemuda rapuh ini. Pelariannya dari rasa sakit fisik dan kehampaan jiwa mendorongnya mulai mengonsumsi obat-obatan terlarang dan ganja. Kehancuran itu tak berhenti pada pelarian pribadi; ia terjerumus semakin dalam hingga terlibat langsung dalam pusaran bisnis gelap narkotika. Bermodal keberaniannya yang nekat, Senny membangun jalur distribusi, membeli ganja dari Sumatera untuk diselundupkan dan diedarkan ke Jakarta hingga Solo.

Di tengah kerasnya jalanan dan masa depan yang terasa buntu, Senny menemukan sebuah oase pelarian yang tak terduga: musik. Pada tahun 1977, di tengah kekosongan rutinitasnya yang sering menganggur, Senny berkumpul dengan teman-teman tongkrongannya yang kebetulan memiliki hasrat dan hobi yang sama. Dari kebersamaan tanpa arah itu, lahirlah sebuah grup band yang mereka beri nama The Pholl’s. Nama band ini merupakan pelesetan yang memberdayakan kata "polio"—sebuah pengakuan jujur bahwa seluruh personel band ini adalah penyandang polio. Melalui The Pholl’s, Senny dan kawan-kawannya seolah ingin merebut kembali narasi atas tubuh mereka. Mereka mengubah kata yang selama ini menjadi sumber ejekan menjadi sebuah identitas kebanggaan yang mereka teriakkan di atas panggung, membawakan tembang-tembang emosional dari Deddy Dores, Chrisye, Panbers, hingga The Mercy's. Kehadiran The Pholl’s ternyata menjadi fenomena yang menghangatkan hati. Di luar dugaan, dentingan melodi dan suara mereka berhasil menembus tembok prasangka masyarakat. Mereka mulai mendapat sorotan dan apresiasi publik yang murni, diundang dari satu panggung ke panggung lain melintasi Surabaya hingga Gresik. Puncak dari eksistensi mereka sebagai seniman terjadi ketika The Pholl’s diundang untuk tampil di layar kaca TVRI Surabaya. Bagi pemuda-pemuda yang kerap dipandang sebelah mata ini, tampil di televisi nasional adalah sebuah validasi bahwa mereka memiliki suara yang pantas didengar. Meski sayangnya kebersamaan band ini hanya bertahan selama dua tahun akibat kesibukan masing-masing personel yang mulai mencari jalan hidup, kenangan di atas panggung itu telah menanamkan sebuah bibit kepercayaan diri yang baru di dalam dada Senny.

Kecintaan Senny pada musik ternyata tidak pernah benar-benar padam, bahkan ketika badai kehidupan membawanya terdampar di ibu kota. Saat ia tinggal di Wisma Cheshire, Jakarta—sebuah rumah singgah bagi penyandang disabilitas—api seni itu kembali menyala. Di sana, ia bertemu dengan Eddy Simon, Suparno, Ipung, dan Samsudin, jiwa-jiwa senasib yang kemudian sepakat membentuk band bernama Rock and Chair. Lagi-lagi, nama ini dipilih dengan sentuhan humor dan kebanggaan yang menyentuh, merepresentasikan para personelnya yang mengandalkan kursi roda (wheelchair). Rock and Chair menjadi ruang aman bagi Senny di tengah kejamnya Jakarta ; mereka bermain dari panggung acara kelulusan SMA, menghibur pasien di rumah sakit, hingga memeriahkan acara ulang tahun. Di balik kegelapannya sebagai pengedar di jalanan ibu kota, musik adalah secercah cahaya yang menjaga kewarasan Senny, memberinya ruang untuk tetap menjadi manusia yang bisa memberikan kebahagiaan bagi orang lain.

Di balik ketangguhannya, sisi rentan Senny terlihat jelas dari dinamika asmaranya di masa muda. Rasa rendah diri akibat kondisi fisiknya seringkali menyabotase kebahagiaannya sendiri dengan seringnya patah asmara.  Patah hati yang menghancurkan ini justru menjadi titik balik psikologis bagi Senny ; rasa sakit itu membakar harga dirinya untuk bangkit, mengubah arah hidupnya, dan membuktikan kelayakannya kepada dunia. Jika masa lalunya penuh dengan penolakan dan pelarian, maka pertemuannya dengan Osrita Muslim (Osi) di Wisma Atlet Cisaeng adalah pelabuhan akhirnya. Osi hadir menawarkan cinta yang murni tanpa belas kasihan, melihat Senny sebagai sosok laki-laki yang utuh. Meski hubungan mereka sempat diwarnai badai konflik akibat sisa-sisa trauma dan kebiasaan lama Senny, ketegasan dan kesabaran Osi berhasil menundukkan arogansi jalanannya. Osi menjadi jangkar emosional yang memastikan Senny tetap berpijak pada realitas, memungkinkannya untuk fokus membangun masa depan dan meninggalkan dunia gelapnya secara permanen. Mereka berhasil melewati badai terhebat itu, menyembuhkan luka masa lalu, dan membuktikan bahwa cinta sejati mampu bertahan—menjadikan mereka pasangan yang begitu harmonis dan tak terpisahkan hingga hari ini.

Ambisi itu bukanlah sekadar bualan emosi sesaat. Hal ini juga serupa dengan sumpahnya untuk membalas kekalahan dalam pertandingan, Senny mengambil keputusan berani untuk merantau ke Jakarta dengan satu tujuan mutlak, yakni menjadi atlet profesional. Namun, ibu kota tidak pernah ramah, apalagi bagi seorang penyandang disabilitas tanpa modal finansial. Tangan yang sama yang bersiap melempar cakram untuk mengharumkan nama bangsa, harus terlebih dahulu memeras spons penuh busa kotor setiap harinya. Senny rela bekerja kasar di tempat pencucian mobil sekadar untuk bertahan hidup dan menyambung napas demi mimpinya. Pekerjaan sampingan ini menjadi saksi bisu betapa ia telah menanggalkan seluruh arogansi masa lalunya. Keringat yang menetes di bawah terik matahari Jakarta saat mencuci mobil adalah harga mahal yang ia bayar demi membeli kembali kehormatan hidupnya. Selama empat tahun berturut-turut, Senny mengubah hidupnya menjadi sebuah kawah candradimuka. Akar kedisiplinan militer dari sang ayah yang dulu ia benci, kini ia terapkan dengan level ekstrem. Setiap hari, tepat pukul lima pagi, saat dunia masih tertidur lelap, Senny sudah bangun untuk berlatih tanpa henti, memeras setiap batas kemampuan fisiknya. Dedikasi berdarah-darah itu akhirnya meledak pada tahun 1986 di Solo—kota yang sama di mana ia dulu ditakuti sebagai preman bersenjata. Di atas tanah Solo, Senny berhasil memecahkan rekor lempar cakram sejauh 28 meter, sebuah lemparan yang tidak hanya menghancurkan rekor angka, tetapi juga menghancurkan masa lalunya yang kelam. Momen itu menjadi tiket emas yang meroketkan karirnya hingga ia berhasil menembus panggung tertinggi dunia, Paralimpiade Seoul 1988. Sejak saat itu, lintasan olahraga tak lagi bisa dipisahkan dari hidupnya, membawa Senny berlaga di berbagai ajang bergengsi hingga tahun 2000, dan membuktikan kepada dunia bahwa raga yang cacat pun bisa melahirkan prestasi yang nyaris mustahil disamai oleh manusia biasa.

Untuk memahami kebesaran takat perjuangan seorang Senny Marbun, kita harus melihat jauh ke belakang pada akar sejarah organisasi yang ia pimpin. Olahraga disabilitas di Indonesia lahir dari rahim kepedulian yang sangat sederhana ketika Pairan Manurung mendirikan Yayasan Pembina Olahraga Cacat (YPOC) pada 31 Oktober 1962. Selama puluhan tahun, olahraga bagi penyandang cacat lebih sering dipandang sebagai bentuk rehabilitasi atau sekadar kegiatan sosial, bukan ajang prestasi profesional. Pada tahun 1993, organisasi ini berganti baju menjadi Badan Pembina Olahraga Cacat (BPOC) demi menghapus stigma bahwa wadah ini adalah milik perseorangan. Namun, revolusi sejati baru terjadi ketika tuntutan zaman dan arahan dari Komite Paralimpiade Internasional (IPC) mendesak Indonesia untuk menganggap para-sports sebagai olahraga serius dan profesional. Merespons hal itu, pada 26 Juli 2010, nama organisasi resmi bertransformasi menjadi National Paralympic Committee (NPC) Indonesia. Di bawah bendera NPC inilah, Senny Marbun mengambil alih kemudi dan mengubah arah sejarah.

Keberhasilan Senny Marbun memimpin NPC Indonesia terbukti secara nyata lewat ledakan prestasi yang dibangunnya secara sistematis dari akar rumput. Menyadari bahwa bibit juara tidak lahir dalam semalam, Senny memfokuskan pengembangan kompetisi olahraga disabilitas di tingkat daerah melalui penyelenggaraan Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas), Pekan Paralimpiade Pelajar Nasional (Peparpenas), serta berbagai kejuaraan nasional lainnya. Ajang-ajang ini menjadi kawah candradimuka yang melahirkan mutiara-mutiara baru olahraga disabilitas. Hasil dari pembinaan ini terlihat jelas dari grafik prestasi kontingen Indonesia yang terus meroket secara konsisten. Pada kancah ASEAN Para Games (APG), Indonesia yang awalnya terseok di peringkat ke-6 pada tahun 2001, perlahan merangkak naik ke posisi 5 (2003), dan konsisten di posisi 4 (2005, 2008, 2009). Kebangkitan itu semakin tak terbendung saat Indonesia menembus peringkat ke-2 pada 2011, hingga akhirnya mengukuhkan diri sebagai Juara Umum secara gemilang pada APG 2014, lalu menorehkan sejarah dengan Tiga Kali Beruntun menjadi Juara Umum Pada APG 2017,APG 2022, dan APG 2023. Pola dominasi yang sama juga mengguncang level benua pada ajang Asian Para Games; dari posisi ke-14 pada tahun 2010, melesat ke urutan ke-9 di Incheon 2014, hingga mantap bersaing di jajaran elite Asia dengan menduduki peringkat ke-5 pada 2018 dan ke-6 pada 2023. Deretan angka ini bukan sekadar statistik olahraga, melainkan bukti tak terbantahkan bahwa di bawah komando Senny, kaum disabilitas terbukti mampu mengangkat derajat bangsa ke puncak tertinggi.

Memimpin NPC Indonesia di masa transisi bukanlah pekerjaan yang menjanjikan kemewahan ; itu adalah sebuah panggilan jiwa yang menuntut pengorbanan darah dan keringat. Menyadari besarnya tanggung jawab untuk mengangkat harkat martabat ribuan nyawa yang senasib dengannya, Senny mengambil keputusan yang mencengangkan. Ia melepaskan dan menyerahkan bisnis konveksi pribadinya yang tengah berjalan kepada para pegawainya. Bagi mantan anak jalanan yang dulu harus memeras keringat mencuci mobil demi sesuap nasi, melepaskan sumber penghasilan utama adalah sebuah pengorbanan yang luar biasa. Namun bagi Senny, mengabdi untuk kaum disabilitas menuntut ketulusan mutlak tanpa cabang pikiran. Ia mewakafkan seluruh sisa waktu, tenaga, dan hidupnya sepenuhnya untuk kursi Ketua Umum.  Mengemban amanah sebagai ketua pada masa-masa awal BPOC bukanlah sebuah pencapaian yang menjanjikan kemewahan, melainkan sebuah ujian ketahanan mental dan pengorbanan yang luar biasa. Saat itu, organisasi berada dalam kondisi finansial yang sangat memprihatinkan, bahkan sekadar untuk melunasi tagihan listrik dan telepon pun mereka tak mampu. Dalam situasi yang serba mati langkah ini, Senny membuang jauh-jauh ego dan gengsinya. Ia tak lelah mengetuk pintu birokrasi pemerintah dan mencari sponsor ke segala penjuru demi menghidupi organisasinya. Ketika semua pintu bantuan tertutup, Senny mengambil jalan pintas yang menyayat hati: ia mengorbankan harta pribadinya dan rela terjerat tumpukan utang demi memastikan napas pembinaan atlet disabilitas di Indonesia tidak berhenti berembus.

Ujian terberat Senny ternyata tidak hanya datang dari krisis finansial, tetapi juga dari labirin birokrasi olahraga nasional. Pada masa-masa kritis kepengurusan, ia sempat berada di titik nadir kelelahan dan berniat mengundurkan diri secara permanen. Niat ini dipicu oleh perlakuan KONI Pusat yang seolah mempermainkan nasib mereka; Surat Keputusan (SK) kepengurusan Senny tak kunjung diturunkan, membiarkan status legalitas NPC terkatung-katung dalam wilayah abu-abu. Namun, di tengah rasa lelah dan niatnya untuk menyerah, suara dari akar rumput justru menjadi pengikat yang tak bisa ia putus. Melalui beberapa kali proses pemungutan suara yang alot, nama Senny tetap keluar sebagai pemenang mutlak. Kepercayaan dan harapan yang begitu besar dari rekan-rekan sejawatnya memaksanya menelan kembali rasa lelahnya, membatalkan niat mundurnya, dan kembali berdiri tegak untuk memimpin perlawanan dari dalam birokrasi.

Visi Senny tidak lagi terbatas pada batas kota Solo atau Jakarta; ia menatap dunia. Menyadari bahwa atlet disabilitas Indonesia butuh fasilitas dan ilmu yang setara dengan atlet normal, Senny melebarkan sayap diplomasi internasionalnya. Pada 10 Juli 2023, ia berhasil menggandeng Seoul Sports Association for the Differently-abled (SSAD) dari Korea Selatan. Melalui kerja sama ini, ia membuka jalan pertukaran (exchange) yang memungkinkan para atletnya merasakan iklim latihan bertaraf internasional, sekaligus menjadikan Korea Selatan sebagai tolok ukur untuk membangun infrastruktur di tanah air.

Kemarahan masa muda yang dulu ia luapkan di jalanan, kini menjelma menjadi keberanian luar biasa di meja lobi tingkat tinggi. Pasca kesuksesan gemilang kontingen Indonesia di Paralimpiade Tokyo 2020, Senny dengan berani maju melobi langsung Presiden Joko Widodo. Tuntutannya hanya satu: sebuah "rumah" yang layak bagi anak-anaknya. Lobi yang berangkat dari ketulusan itu membuahkan hasil manis yang belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia. Sebuah Training Center (Pusat Pelatihan) khusus disabilitas bertaraf internasional akhirnya dibangun di Karanganyar, dirancang khusus untuk memenuhi standar aksesibilitas global dan mampu menampung 500 atlet. Ini bukan sekadar bangunan fisik; bagi 500 atlet yang mungkin dulunya pernah ditolak oleh dunia seperti halnya Senny muda, Training Center itu adalah sebuah suaka harapan. Dedikasi tanpa batas ini pada akhirnya menundukkan dunia. Pada tahun 2023, Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) menganugerahkan penghargaan kepadanya sebagai pelopor pembibitan dan pembinaan prestasi olahraga disabilitas di Indonesia. Namun, bagi Senny, penghargaan terbesarnya bukanlah piagam MURI atau medali. Penghargaan terbesarnya hidup di dalam hati rekan-rekan sejawat dan ribuan atlet yang kini memanggilnya dengan sebutan kehormatan: "Pahlawan Kebangkitan Insan Disabilitas". Integritas jalanannya tak pernah pudar. Ketegasannya, keberaniannya mengambil risiko, dan kesetiakawanannya yang dulu ia gunakan untuk membela teman-teman di Geng RC, kini ia gunakan untuk menjadi perisai pelindung bagi seluruh penyandang disabilitas di Indonesia. Pada Tahun 2025, Senny Marbun dianugerahi Penghargaan Bintang Jasa Nararya berdasarkan Keputusan Presiden No 75/TK/Tahun 2025 atas dedikasinya dalam mengembangkan olahraga disabilitas sampai pada level Paralympic.

Warisan terbesar seorang Senny Marbun adalah sebuah revolusi kesetaraan dan martabat. Dedikasi Senny di NPC Indonesia terbukti secara nyata lewat ledakan prestasi para atlet di kancah dunia. Di bawah kepemimpinannya, kontingen disabilitas Indonesia mencatatkan kesuksesan gemilang, termasuk raihan medali bersejarah di Paralimpiade Tokyo 2020 dan Paralimpiade Paris 2024 dan rentetan kejayaan di Asian Para Games 2014, 2018, dan 2023. Terlebih, beliau telah membawa Indonesia untuk pertama kalinya Hattrick Juara Umum pada pagelaran ASEAN Para Games 2017, 2022, dan 2023, sebuah prestasi yang tidak bisa diragukan lagi kesuksesannya. Rentetan medali ini tidak sekadar menjadi pameran kekuatan olahraga, melainkan menjadi instrumen diplomasi terkuat Senny untuk menuntut keadilan dari negara. Puncaknya adalah keberhasilannya menghapus "kasta" penghargaan atlet melalui penyetaraan mutlak nominal bonus medali bagi atlet disabilitas dengan atlet non-disabilitas. Lewat tangan dinginnya, NPC Indonesia tidak sekadar menjadi mesin pencetak atlet berprestasi, melainkan menjadi sebuah rumah kebanggaan yang mengembalikan harga diri para penyandang disabilitas. Ia memastikan bahwa keringat dan air mata mereka dihargai setara, dihormati oleh negara, dan dirayakan oleh rakyat Indonesia.

 


Official Partner

Bayan Peduli Bayan Resources

Supported by

Yayasan Inklusi Pelita Bangsa

Apparel Powered by

Mills