Nama Senny Marbun saat ini
berdiri tegak sebagai Bapak Olahraga Disabilitas Indonesia, sosok sentral dan
tak tergantikan di balik masa keemasan National Paralympic Committee (NPC)
Indonesia. Namun dalam membesarkan organisasi olahraga penyandang disabilitas
berbasis Paralimpiade ini, beliau telah mengalami rekam jejak kehidupan
yang jauh lebih keras, gelap, dan berdarah-darah. Kisah luar biasa tentang
seorang manusia yang menolak tunduk pada keadaan, melawan stigma dunia, dan
pada akhirnya, menulis ulang takdirnya sendiri dengan kedua tangannya yang
sempat tak dianggap. Melalui lembar demi lembar biografi ini, pembaca
disuguhkan sebuah tema akan bagaimana sebuah pemberontakan dan kemarahan yang
ekstrem dapat bertransformasi menjadi sebuah dedikasi yang sama ekstremnya. Bagaimana seorang Senny Marbun dengan disabilitas yang tadinya terpinggirkan, kehilangan arah, dan
bahkan sempat terbuang oleh kerasnya jalanan akhirnya menemukan tujuan hidup
dan harga dirinya melalui olahraga. Bagi beliau, di tengah keputusasaannya
mencari kebebasan, olahraga bukanlah sekadar ajang untuk meraih medali.
Olahraga adalah satu-satunya sekoci penyelamat yang menariknya dari jurang
kehancuran dan mengembalikan martabatnya sebagai manusia seutuhnya.
Dimulai dari akar kedisiplinan dalam keluarga militer,
hantaman demam polio di masa kecil yang merenggut kebebasan fisiknya, hingga
pelariannya di dunia kelam sebagai preman Solo dan pengedar narkoba di jalanan
ibu kota. Namun, di tengah keterpurukan tersebut, kisah ini juga merekam
titik-titik balik yang menyelamatkannya—dari pencarian jati diri di
panggung-panggung musik Surabaya, hingga momen keajaiban di tahun 1982 yang
membawanya ke lintasan tolak peluru di Hong Kong. Dari seorang anak jalanan
yang marah pada dunia, Senny Marbun akhirnya bermetamorfosis menjadi ikon
nasional yang mengangkat harkat, derajat, dan kesejahteraan jutaan penyandang
disabilitas di seluruh Indonesia.
Kisah Senny Marbun tidak dimulai
dari panggung gemerlap atau arena olahraga, melainkan dari tempaan keras
kehidupan sebuah keluarga militer. Sebagai anak seorang prajurit, masa kecil
Senny diwarnai dengan dinamika perpindahan tempat tinggal yang konstan,
menuntutnya untuk selalu mencabut akarnya dan beradaptasi dengan lingkungan
yang benar-benar baru. Di tengah ketidakpastian ruang tersebut, Senny kecil
harus menjalani realitas emosional yang tak kalah berat: ia tumbuh tanpa
dekapan ibu kandungnya dan dibesarkan oleh ibu sambungnya. Lingkungan rumah
yang kaku, sarat akan kedisiplinan khas militer, serta kerinduan akan
kehangatan kasih sayang orang tua, perlahan membentuk fondasi karakter Senny
menjadi sosok yang keras, berani, namun sesungguhnya menyimpan dahaga yang
besar akan kebebasan. Namun, badai yang sesungguhnya datang merenggut masa
kecilnya dengan cara yang paling tidak terduga dan menyayat hati. Sebuah
serangan demam tinggi yang ganas berujung pada vonis polio, menjadi titik balik
paling traumatis dalam fase pertumbuhannya. Penyakit mematikan pada masa itu
tidak hanya menghentikan pertumbuhan fisik normalnya, tetapi secara perlahan
membuat kakinya mengecil dan kehilangan tenaga. Bayangkan kepedihan psikologis
seorang anak laki-laki yang lahir di tengah kultur militer—sebuah dunia yang
sangat mengagungkan kesempurnaan dan ketangguhan fisik, tiba-tiba harus
menerima kenyataan bahwa tubuhnya sendiri telah berkhianat dan memenjarakannya.
Bagi Senny, polio menjadi awal dari hilangnya makna dan motivasi dalam
perjalanan hidupnya. Di sinilah letak puncak tragedi emosional dari seorang
Senny muda. Cacat fisiknya tidak melahirkan harapan, melainkan melahirkan
sebuah keputusasaan yang sangat gelap. Ia menolak keras untuk dikasihani,
karena setiap tatapan iba dari orang-orang di sekitarnya adalah hinaan yang
membakar harga dirinya.
Keputusannya untuk memberontak
dan turun menjadi anak jalanan menjadi cara cepat untuk mencari kekosongan diri
yang dihadapinya. Kehilangan kepercayaan pada masa depannya, Senny merasa
tubuhnya yang rusak membuatnya tak pantas dan tak ingin hidup lama-lama.
Hasratnya yang ekstrem untuk "bebas" di jalanan sesungguhnya adalah
manifestasi dari keinginannya untuk merengkuh kematian lebih cepat. Daripada
hidup perlahan dalam belas kasihan orang lain, ia memilih hidup sembrono,
menantang bahaya di jalanan, seolah-olah berlari memeluk akhir hidupnya
sendiri. Akar dari kekerasan dan pemberontakan Senny bermula jauh sebelum ia
menginjak usia remaja, tepatnya ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar
di Surabaya. Di sana, di tengah lingkungan yang belum bisa menerima
perbedaannya, ia harus menelan pil pahit berupa ejekan dan perundungan tiada
henti dari teman-temannya. Luka batin akibat ledekan di Surabaya itulah yang
pertama kali memicu insting bertahannya: ketika dunia merendahkannya, ia
memilih membalas dengan kepalan tangan. Kepindahannya ke Solo pada saat ia
menginjak kelas 5 SD untuk bersekolah di YPOC (Yayasan Pembina Olahraga Cacat)
seharusnya menjadi tempat yang aman dan penuh pengertian. Namun, bagi jiwa yang
telanjur terluka, dinding-dinding sekolah baru pun tak mampu meredam amarahnya
yang memuncak. Rasa frustrasi dan agresi itu terus membesar seiring pergantian
usianya. Puncak dari kebrutalan emosional ini meledak ketika Senny menginjak
bangku SMP, di mana ia senekat itu membawa senjata api ke sekolah—sebuah simbol
keputusasaan yang mengerikan dari seorang remaja yang merasa harus
mempersenjatai dirinya hingga titik maksimal untuk membalas dendam pada dunia.
Jalanan kota Solo kemudian
menjadi kanvas bagi pelariannya yang sesungguhnya. Bersama teman-temannya yang
senasib, Senny membentuk sebuah geng jalanan yang dinamakan Geng RC
(Rehabilitasi Centrum). Namun, di balik cap sebagai preman yang ditakuti,
tersimpan sebuah ironi yang menyentuh hati: seringkali pukulan yang ia
layangkan bukanlah untuk kepentingannya sendiri, melainkan untuk membela
teman-temannya yang tertindas. Di dunia yang keras itu, Senny menemukan nilai
kemanusiaannya melalui kesetiakawanan dan solidaritas tanpa batas. Integritas
jalanannya pun tak bisa dipandang sebelah mata. Meskipun ayahnya adalah seorang
perwira menengah berpangkat Letnan Kolonel (Letkol), Senny pantang menjual nama
ayahnya setiap kali ia ditangkap polisi. Ia memilih menanggung semua resiko dan
siksaan fisik sendirian, menolak keras bangku perkuliahan, dan memilih jalanan
sebagai tempat pelariannya. Namun, fase paling kelam dalam epik ini mencapai
titik nadir ketika ia mengadu nasib ke Jakarta. Terhimpit beban bertahan hidup
dari mencuci mobil, ibu kota perlahan menelan pemuda rapuh ini. Pelariannya
dari rasa sakit fisik dan kehampaan jiwa mendorongnya mulai mengonsumsi
obat-obatan terlarang dan ganja. Kehancuran itu tak berhenti pada pelarian
pribadi; ia terjerumus semakin dalam hingga terlibat langsung dalam pusaran
bisnis gelap narkotika. Bermodal keberaniannya yang nekat, Senny membangun
jalur distribusi, membeli ganja dari Sumatera untuk diselundupkan dan diedarkan
ke Jakarta hingga Solo.
Di tengah kerasnya jalanan dan
masa depan yang terasa buntu, Senny menemukan sebuah oase pelarian yang tak
terduga: musik. Pada tahun 1977, di tengah kekosongan rutinitasnya yang sering
menganggur, Senny berkumpul dengan teman-teman tongkrongannya yang kebetulan
memiliki hasrat dan hobi yang sama. Dari kebersamaan tanpa arah itu, lahirlah
sebuah grup band yang mereka beri nama The Pholl’s. Nama band ini merupakan
pelesetan yang memberdayakan kata "polio"—sebuah pengakuan jujur
bahwa seluruh personel band ini adalah penyandang polio. Melalui The Pholl’s,
Senny dan kawan-kawannya seolah ingin merebut kembali narasi atas tubuh mereka.
Mereka mengubah kata yang selama ini menjadi sumber ejekan menjadi sebuah
identitas kebanggaan yang mereka teriakkan di atas panggung, membawakan
tembang-tembang emosional dari Deddy Dores, Chrisye, Panbers, hingga The
Mercy's. Kehadiran The Pholl’s ternyata menjadi fenomena yang menghangatkan
hati. Di luar dugaan, dentingan melodi dan suara mereka berhasil menembus
tembok prasangka masyarakat. Mereka mulai mendapat sorotan dan apresiasi publik
yang murni, diundang dari satu panggung ke panggung lain melintasi Surabaya
hingga Gresik. Puncak dari eksistensi mereka sebagai seniman terjadi ketika The
Pholl’s diundang untuk tampil di layar kaca TVRI Surabaya. Bagi pemuda-pemuda
yang kerap dipandang sebelah mata ini, tampil di televisi nasional adalah
sebuah validasi bahwa mereka memiliki suara yang pantas didengar. Meski
sayangnya kebersamaan band ini hanya bertahan selama dua tahun akibat kesibukan
masing-masing personel yang mulai mencari jalan hidup, kenangan di atas
panggung itu telah menanamkan sebuah bibit kepercayaan diri yang baru di dalam
dada Senny.
Kecintaan Senny pada musik
ternyata tidak pernah benar-benar padam, bahkan ketika badai kehidupan
membawanya terdampar di ibu kota. Saat ia tinggal di Wisma Cheshire,
Jakarta—sebuah rumah singgah bagi penyandang disabilitas—api seni itu kembali
menyala. Di sana, ia bertemu dengan Eddy Simon, Suparno, Ipung, dan Samsudin,
jiwa-jiwa senasib yang kemudian sepakat membentuk band bernama Rock and Chair.
Lagi-lagi, nama ini dipilih dengan sentuhan humor dan kebanggaan yang
menyentuh, merepresentasikan para personelnya yang mengandalkan kursi roda
(wheelchair). Rock and Chair menjadi ruang aman bagi Senny di tengah kejamnya
Jakarta ; mereka bermain dari panggung acara kelulusan SMA, menghibur pasien di
rumah sakit, hingga memeriahkan acara ulang tahun. Di balik kegelapannya
sebagai pengedar di jalanan ibu kota, musik adalah secercah cahaya yang menjaga
kewarasan Senny, memberinya ruang untuk tetap menjadi manusia yang bisa
memberikan kebahagiaan bagi orang lain.
Di balik ketangguhannya, sisi
rentan Senny terlihat jelas dari dinamika asmaranya di masa muda. Rasa rendah
diri akibat kondisi fisiknya seringkali menyabotase kebahagiaannya sendiri
dengan seringnya patah asmara. Patah hati yang menghancurkan ini justru
menjadi titik balik psikologis bagi Senny ; rasa sakit itu membakar harga
dirinya untuk bangkit, mengubah arah hidupnya, dan membuktikan kelayakannya
kepada dunia. Jika masa lalunya penuh dengan penolakan dan pelarian, maka
pertemuannya dengan Osrita Muslim (Osi) di Wisma Atlet Cisaeng adalah pelabuhan
akhirnya. Osi hadir menawarkan cinta yang murni tanpa belas kasihan, melihat
Senny sebagai sosok laki-laki yang utuh. Meski hubungan mereka sempat diwarnai
badai konflik akibat sisa-sisa trauma dan kebiasaan lama Senny, ketegasan dan
kesabaran Osi berhasil menundukkan arogansi jalanannya. Osi menjadi jangkar
emosional yang memastikan Senny tetap berpijak pada realitas, memungkinkannya
untuk fokus membangun masa depan dan meninggalkan dunia gelapnya secara permanen.
Mereka berhasil melewati badai terhebat itu, menyembuhkan luka masa lalu, dan
membuktikan bahwa cinta sejati mampu bertahan—menjadikan mereka pasangan yang
begitu harmonis dan tak terpisahkan hingga hari ini.
Ambisi itu bukanlah sekadar
bualan emosi sesaat. Hal ini juga serupa dengan sumpahnya untuk membalas
kekalahan dalam pertandingan, Senny mengambil keputusan berani untuk merantau
ke Jakarta dengan satu tujuan mutlak, yakni menjadi atlet profesional. Namun,
ibu kota tidak pernah ramah, apalagi bagi seorang penyandang disabilitas tanpa
modal finansial. Tangan yang sama yang bersiap melempar cakram untuk
mengharumkan nama bangsa, harus terlebih dahulu memeras spons penuh busa kotor
setiap harinya. Senny rela bekerja kasar di tempat pencucian mobil sekadar
untuk bertahan hidup dan menyambung napas demi mimpinya. Pekerjaan sampingan
ini menjadi saksi bisu betapa ia telah menanggalkan seluruh arogansi masa
lalunya. Keringat yang menetes di bawah terik matahari Jakarta saat mencuci
mobil adalah harga mahal yang ia bayar demi membeli kembali kehormatan
hidupnya. Selama empat tahun berturut-turut, Senny mengubah hidupnya menjadi
sebuah kawah candradimuka. Akar kedisiplinan militer dari sang ayah yang dulu
ia benci, kini ia terapkan dengan level ekstrem. Setiap hari, tepat pukul lima
pagi, saat dunia masih tertidur lelap, Senny sudah bangun untuk berlatih tanpa
henti, memeras setiap batas kemampuan fisiknya. Dedikasi berdarah-darah itu
akhirnya meledak pada tahun 1986 di Solo—kota yang sama di mana ia dulu
ditakuti sebagai preman bersenjata. Di atas tanah Solo, Senny berhasil
memecahkan rekor lempar cakram sejauh 28 meter, sebuah lemparan yang tidak
hanya menghancurkan rekor angka, tetapi juga menghancurkan masa lalunya yang
kelam. Momen itu menjadi tiket emas yang meroketkan karirnya hingga ia berhasil
menembus panggung tertinggi dunia, Paralimpiade Seoul 1988. Sejak saat itu,
lintasan olahraga tak lagi bisa dipisahkan dari hidupnya, membawa Senny berlaga
di berbagai ajang bergengsi hingga tahun 2000, dan membuktikan kepada dunia
bahwa raga yang cacat pun bisa melahirkan prestasi yang nyaris mustahil disamai
oleh manusia biasa.
Untuk memahami kebesaran takat
perjuangan seorang Senny Marbun, kita harus melihat jauh ke belakang pada akar
sejarah organisasi yang ia pimpin. Olahraga disabilitas di Indonesia lahir dari
rahim kepedulian yang sangat sederhana ketika Pairan Manurung mendirikan
Yayasan Pembina Olahraga Cacat (YPOC) pada 31 Oktober 1962. Selama puluhan
tahun, olahraga bagi penyandang cacat lebih sering dipandang sebagai bentuk
rehabilitasi atau sekadar kegiatan sosial, bukan ajang prestasi profesional.
Pada tahun 1993, organisasi ini berganti baju menjadi Badan Pembina Olahraga
Cacat (BPOC) demi menghapus stigma bahwa wadah ini adalah milik perseorangan.
Namun, revolusi sejati baru terjadi ketika tuntutan zaman dan arahan dari
Komite Paralimpiade Internasional (IPC) mendesak Indonesia untuk menganggap
para-sports sebagai olahraga serius dan profesional. Merespons hal itu, pada 26
Juli 2010, nama organisasi resmi bertransformasi menjadi National Paralympic
Committee (NPC) Indonesia. Di bawah bendera NPC inilah, Senny Marbun mengambil
alih kemudi dan mengubah arah sejarah.
Keberhasilan Senny Marbun
memimpin NPC Indonesia terbukti secara nyata lewat ledakan prestasi yang
dibangunnya secara sistematis dari akar rumput. Menyadari bahwa bibit juara
tidak lahir dalam semalam, Senny memfokuskan pengembangan kompetisi olahraga disabilitas
di tingkat daerah melalui penyelenggaraan Pekan Paralimpiade Nasional
(Peparnas), Pekan Paralimpiade Pelajar Nasional (Peparpenas), serta berbagai
kejuaraan nasional lainnya. Ajang-ajang ini menjadi kawah candradimuka yang
melahirkan mutiara-mutiara baru olahraga disabilitas. Hasil dari pembinaan ini
terlihat jelas dari grafik prestasi kontingen Indonesia yang terus meroket
secara konsisten. Pada kancah ASEAN Para Games (APG), Indonesia yang awalnya
terseok di peringkat ke-6 pada tahun 2001, perlahan merangkak naik ke posisi 5
(2003), dan konsisten di posisi 4 (2005, 2008, 2009). Kebangkitan itu semakin
tak terbendung saat Indonesia menembus peringkat ke-2 pada 2011, hingga
akhirnya mengukuhkan diri sebagai Juara Umum secara gemilang pada APG 2014, lalu
menorehkan sejarah dengan Tiga Kali Beruntun menjadi Juara Umum Pada APG
2017,APG 2022, dan APG 2023. Pola dominasi yang sama juga mengguncang level
benua pada ajang Asian Para Games; dari posisi ke-14 pada tahun 2010, melesat
ke urutan ke-9 di Incheon 2014, hingga mantap bersaing di jajaran elite Asia
dengan menduduki peringkat ke-5 pada 2018 dan ke-6 pada 2023. Deretan angka ini
bukan sekadar statistik olahraga, melainkan bukti tak terbantahkan bahwa di
bawah komando Senny, kaum disabilitas terbukti mampu mengangkat derajat bangsa
ke puncak tertinggi.
Memimpin NPC Indonesia di masa
transisi bukanlah pekerjaan yang menjanjikan kemewahan ; itu adalah sebuah
panggilan jiwa yang menuntut pengorbanan darah dan keringat. Menyadari besarnya
tanggung jawab untuk mengangkat harkat martabat ribuan nyawa yang senasib
dengannya, Senny mengambil keputusan yang mencengangkan. Ia melepaskan dan
menyerahkan bisnis konveksi pribadinya yang tengah berjalan kepada para
pegawainya. Bagi mantan anak jalanan yang dulu harus memeras keringat mencuci
mobil demi sesuap nasi, melepaskan sumber penghasilan utama adalah sebuah
pengorbanan yang luar biasa. Namun bagi Senny, mengabdi untuk kaum disabilitas
menuntut ketulusan mutlak tanpa cabang pikiran. Ia mewakafkan seluruh sisa
waktu, tenaga, dan hidupnya sepenuhnya untuk kursi Ketua Umum. Mengemban
amanah sebagai ketua pada masa-masa awal BPOC bukanlah sebuah pencapaian yang
menjanjikan kemewahan, melainkan sebuah ujian ketahanan mental dan pengorbanan
yang luar biasa. Saat itu, organisasi berada dalam kondisi finansial yang
sangat memprihatinkan, bahkan sekadar untuk melunasi tagihan listrik dan
telepon pun mereka tak mampu. Dalam situasi yang serba mati langkah ini, Senny
membuang jauh-jauh ego dan gengsinya. Ia tak lelah mengetuk pintu birokrasi
pemerintah dan mencari sponsor ke segala penjuru demi menghidupi organisasinya.
Ketika semua pintu bantuan tertutup, Senny mengambil jalan pintas yang menyayat
hati: ia mengorbankan harta pribadinya dan rela terjerat tumpukan utang demi
memastikan napas pembinaan atlet disabilitas di Indonesia tidak berhenti
berembus.
Ujian terberat Senny ternyata
tidak hanya datang dari krisis finansial, tetapi juga dari labirin birokrasi
olahraga nasional. Pada masa-masa kritis kepengurusan, ia sempat berada di
titik nadir kelelahan dan berniat mengundurkan diri secara permanen. Niat ini
dipicu oleh perlakuan KONI Pusat yang seolah mempermainkan nasib mereka; Surat
Keputusan (SK) kepengurusan Senny tak kunjung diturunkan, membiarkan status
legalitas NPC terkatung-katung dalam wilayah abu-abu. Namun, di tengah rasa
lelah dan niatnya untuk menyerah, suara dari akar rumput justru menjadi
pengikat yang tak bisa ia putus. Melalui beberapa kali proses pemungutan suara
yang alot, nama Senny tetap keluar sebagai pemenang mutlak. Kepercayaan dan
harapan yang begitu besar dari rekan-rekan sejawatnya memaksanya menelan
kembali rasa lelahnya, membatalkan niat mundurnya, dan kembali berdiri tegak
untuk memimpin perlawanan dari dalam birokrasi.
Visi Senny tidak lagi terbatas
pada batas kota Solo atau Jakarta; ia menatap dunia. Menyadari bahwa atlet
disabilitas Indonesia butuh fasilitas dan ilmu yang setara dengan atlet normal,
Senny melebarkan sayap diplomasi internasionalnya. Pada 10 Juli 2023, ia
berhasil menggandeng Seoul Sports Association for the Differently-abled (SSAD)
dari Korea Selatan. Melalui kerja sama ini, ia membuka jalan pertukaran
(exchange) yang memungkinkan para atletnya merasakan iklim latihan bertaraf
internasional, sekaligus menjadikan Korea Selatan sebagai tolok ukur untuk
membangun infrastruktur di tanah air.
Kemarahan masa muda yang dulu ia
luapkan di jalanan, kini menjelma menjadi keberanian luar biasa di meja lobi
tingkat tinggi. Pasca kesuksesan gemilang kontingen Indonesia di Paralimpiade
Tokyo 2020, Senny dengan berani maju melobi langsung Presiden Joko Widodo.
Tuntutannya hanya satu: sebuah "rumah" yang layak bagi anak-anaknya.
Lobi yang berangkat dari ketulusan itu membuahkan hasil manis yang belum pernah
terjadi dalam sejarah Indonesia. Sebuah Training Center (Pusat Pelatihan)
khusus disabilitas bertaraf internasional akhirnya dibangun di Karanganyar,
dirancang khusus untuk memenuhi standar aksesibilitas global dan mampu
menampung 500 atlet. Ini bukan sekadar bangunan fisik; bagi 500 atlet yang
mungkin dulunya pernah ditolak oleh dunia seperti halnya Senny muda, Training
Center itu adalah sebuah suaka harapan. Dedikasi tanpa batas ini pada akhirnya
menundukkan dunia. Pada tahun 2023, Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI)
menganugerahkan penghargaan kepadanya sebagai pelopor pembibitan dan pembinaan
prestasi olahraga disabilitas di Indonesia. Namun, bagi Senny, penghargaan
terbesarnya bukanlah piagam MURI atau medali. Penghargaan terbesarnya hidup di
dalam hati rekan-rekan sejawat dan ribuan atlet yang kini memanggilnya dengan
sebutan kehormatan: "Pahlawan Kebangkitan Insan Disabilitas".
Integritas jalanannya tak pernah pudar. Ketegasannya, keberaniannya mengambil
risiko, dan kesetiakawanannya yang dulu ia gunakan untuk membela teman-teman di
Geng RC, kini ia gunakan untuk menjadi perisai pelindung bagi seluruh
penyandang disabilitas di Indonesia. Pada Tahun 2025, Senny Marbun dianugerahi
Penghargaan Bintang Jasa Nararya berdasarkan Keputusan Presiden No 75/TK/Tahun
2025 atas dedikasinya dalam mengembangkan olahraga disabilitas sampai pada
level Paralympic.
Warisan terbesar seorang Senny
Marbun adalah sebuah revolusi kesetaraan dan martabat. Dedikasi Senny di NPC
Indonesia terbukti secara nyata lewat ledakan prestasi para atlet di kancah
dunia. Di bawah kepemimpinannya, kontingen disabilitas Indonesia mencatatkan
kesuksesan gemilang, termasuk raihan medali bersejarah di Paralimpiade Tokyo
2020 dan Paralimpiade Paris 2024 dan rentetan kejayaan di Asian Para Games
2014, 2018, dan 2023. Terlebih, beliau telah membawa Indonesia untuk pertama
kalinya Hattrick Juara Umum pada pagelaran ASEAN Para Games 2017, 2022, dan
2023, sebuah prestasi yang tidak bisa diragukan lagi kesuksesannya. Rentetan
medali ini tidak sekadar menjadi pameran kekuatan olahraga, melainkan menjadi
instrumen diplomasi terkuat Senny untuk menuntut keadilan dari negara.
Puncaknya adalah keberhasilannya menghapus "kasta" penghargaan atlet
melalui penyetaraan mutlak nominal bonus medali bagi atlet disabilitas dengan
atlet non-disabilitas. Lewat tangan dinginnya, NPC Indonesia tidak sekadar
menjadi mesin pencetak atlet berprestasi, melainkan menjadi sebuah rumah
kebanggaan yang mengembalikan harga diri para penyandang disabilitas. Ia
memastikan bahwa keringat dan air mata mereka dihargai setara, dihormati oleh
negara, dan dirayakan oleh rakyat Indonesia.