shape
Pencarian
pattern pattern

Dari Lintasan ke Pinggir Arena: Setiyo Budi Hartanto Tularkan Tinta Emas di ASEAN Para Games 2025

26 Januari 2026
Share:
Link berhasil disalin!
news-

NAKHON RATCHASIMA - Tak banyak atlet yang pernah meraih kesuksesan berhasil melanjutkan kejayaan ketika beralih profesi sebagai seorang pelatih. Satu dari sedikit nama itu adalah Setiyo Budi Hartanto. Ia berhasil menularkan tinta emas yang pernah ia ukir untuk membantu atlet para atletik berprestasi di ASEAN Para Games 2025.


Para atletik menjadi mesin pencetak medali bagi kontingen Indonesia di Thailand. Dari yang awalnya ditargetkan meraih 25 emas, 30 perak dan 23 perunggu, tim para atletik Indonesia berhasil mendapatkan 44 emas, 38 perak serta 23 perunggu.


Perjuangan para atlet layak untuk diapresiasi. Kedisiplinan dan kerja keras yang dilakukan selama masa persiapan pada akhirnya berbuah prestasi yang mengharumkan nama bangsa Indonesia.


Selain para atlet, sosok-sosok dibalik layar juga tak kalah penting. Tim para atletik Indonesia memiliki sederet pelatih yang berhasil memoles para atlet untuk siap bersaing di level internasional.


Salah satu nama tersebut adalah Setiyo Budi Hartanto. Pengalaman yang panjang semasa menjadi atlet, ditambah metode latihan adaptif, pelatih spesialis nomor lari dan lompat ini berhasil mengantarkan anak asuhnya tampil impresif.


Setiyo tercatat mendampingi beberapa atlet di lintas nomor. Selain lari, ia juga mengasuh atlet-atlet dari sektor lompat jauh dan lompat tinggi. Catatan yang dihasilkan anak didiknya cukup mengesankan. Mereka menjadi tulang punggung cabor para atletik yang sukses menyumbang medali terbanyak untuk Indonesia.


Di antara atlet yang mampu mempersembahkan capaian mentereng di cabor ini yakni Nur Ferry Pradana. Lelaki kelahiran 7 Desember 1995 itu sukses merebut tiga emas di ASEAN Para Games ke-13 ini dari nomor lari 100 meter putra T47, 200 meter putra T47, dan 400 meter putra T47.


Selanjutnya, ada Alfin Nomleni yang juga menghasilkan tiga emas dari nomor 400 meter putra T20, 800 meter putra T20, serta 1.500 meter putra T20. 


Adapun untuk sektor putri, Helin Wardina sukses mendulang dua emas dari nomor lari 100 meter putri T64 dan 200 meter putri T64. Selain itu, masih ada pula anak didik Setiyo lainnya yang sukses menghasilkan emas. 


Tangan dingin Setiyo dalam mengasah potensi anak didiknya memang tak perlu diragukan lagi. Saat masih menjadi atlet, ia sudah mengikuti ajang ASEAN Para Games pada edisi ketiga yang berlangsung di Manila, Filipina, pada 2005. Sejak saat itu, ia selalu konsisten mempersembahkan medali.


Kiprahnya juga tak hanya harum di regional Asia Tenggara. Sebab, ia juga selalu menjadi bagian dari kontingen Indonesia ketika menghadapi Asian Para Games. Tidak hanya itu, lelaki kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, ini juga sudah tiga kali berlaga di level Paralimpiade, yakni pada edisi 2012 (London), 2016 (Rio de Janeiro), hingga 2021 (Tokyo).


Saat terakhir kali mengikuti ASEAN Para Games 2022 di Solo, Setiyo akhirnya menyatakan untuk pensiun. Ketika itu, dia sukses menutup perjalanan kariernya sebagai atlet dengan indah karena masih berhasil mendapatkan dua medali emas.


“Awalnya, saya merasa bahwa menjadi atlet di usia 36 tahun sudah cukup. Ini adalah saatnya bagi saya untuk mengabdi di dunia kepelatihan. Sebagai atlet, tekanan yang dihadapi memang cukup tinggi. Apalagi ketika itu saya juga cedera. Itulah yang meyakinkan saya untuk memutuskan menjadi pelatih,” ujar Setiyo.


Setelah beralih karir menjadi pelatih, Setyo juga menerapkan pendekatan baru untuk membina atlet-atletnya. Satu hal yang selalu dia lakukan adalah mengamati atlet-atlet dari negara lainnya. Dari sana, ia mempelajari berbagai metode latihan yang efektif.


“Saat mendampingi atlet-atlet bertanding di luar negeri itu, saya selalu mengamati apa saja yang mereka gunakan. Dari pengamatan itu, saya kemudian mengadopsinya untuk diterapkan dalam melatih para atlet. Hasilnya juga lumayan efektif,” kata dia.


Menurut lelaki berusia 39 tahun ini, Tiongkok menjadi salah satu negara kiblat untuk para atletik. Sebab, para atlet asal Negeri Tirai Bambu itu sangat dominan di berbagai ajang, terutama Paralimpiade. 


“Makanya, setiap kali berlaga di event internasional, saya selalu berpesan kepada para atlet bahwa mereka tidak hanya berlomba saja, tetapi juga harus menuntut ilmu. Jadi, mereka harus melihat dan mengamati atlet-atlet mana pun, bagaimana persiapan mereka sebelum bertanding, termasuk ketika pemanasan,” katanya. 


Sosok Pelatih, Sahabat, dan Inspirator


Di ASEAN Para Games 2025 ini, salah satu anak didik Setiyo, Alfin Nomleni, mampu mendulang tiga medali emas untuk kontingen Indonesia. Prestasi tersebut diukir dari nomor 400 meter putra T20, 800 meter putra T20, serta 1.500 meter putra T20.


Alfin telah mengenal Setiyo cukup lama, tepatnya sejak tahun 2022. Ketika itu, Setiyo masih aktif berkompetisi sebagai atlet. Ketika Setiyo mulai menapaki karier baru sebagai pelatih, Alfin menjadi salah satu atlet yang diajak bergabung untuk ditempa pada 2023.


“Setelah dilatih Mas Setiyo, prestasi saya mulai memuncak di ajang World Para Athletics Championship 2024 yang berlangsung di Kobe. Catatan waktu saya meningkat. Setelah itu saya bisa mendapatkan emas di Tunisia,” kata lelaki asal Nusa Tenggara Timur (NTT) itu.


Bagi Alfin, pendekatan Setiyo ketika melatih membuat atlet merasa nyaman. Meskipun menjadi pelatih, Setiyo mampu menempatkan dirinya seperti seorang kawan. Kedekatan personal inilah yang sangat membantu atlet untuk melahap program latihan.


“Saat memberi program latihan pun, dia tetap asyik. Walaupun kami merasa sangat lelah, tetapi bisa tetap terhibur. Namun, dia tetap menjaga kedisiplinan. Mas Setiyo juga tidak pernah marah kalau kami melakukan kesalahan,” ujar Alfin.


Salah satu atlet putri yang sukses mengukir capaian apik di bawah asuhan Setiyo ialah Nanda Mei Sholihah. Sprinter asal Kediri, Jawa Timur itu, sukses memecahkan rekor Asia dengan catatan waktu 12.39 detik di nomor 100 meter putri T47 di ajang World Para Athletics Championship 2025 yang berlangsung di New Delhi, India.


Nanda mengakui, peran besar Setiyo memiliki dampak yang signifikan terhadap performanya. Sejak diasuh mulai tahun 2025, perempuan berusia 27 tahun ini setidaknya bisa membawa tiga medali perak dari nomor 100 meter putri T47, 200 meter putri T47, dan 400 meter putri T47.


“Sebagai pelatih, beliau adalah sosok yang sangat suportif. Ketika saya berada di titik terendah karena kepikiran bagaimana lawan yang dihadapi, beliau sangat membantu. Dukungannya secara emosional sangat membantu saya untuk bangkit,” ujar Nanda.


Selain itu, Nanda juga merasa sangat terbantu dengan program-program yang telah diberikan mentornya itu. Sebagai seorang atlet, tugasnya hanya menjalankan seluruh instruksi yang diberikan pelatih secara maksimal agar mendapatkan hasil sesuai harapan.


“Saya sangat berterima kasih kepada Coach Setiyo karena sudah membimbing saya. Dia mampu memberikan program latihan yang sesuai dengan kondisi saya. Dia betul-betul memperhatikan kondisi fisik saya dan selalu mencatat progres yang telah saya catatkan,” lanjut dia.

Pelatih atletik NPC Indonesia Setiyo Budi Hartanto (tengah) memberikan arahan kepada atlet yang diasuhnya pada sesi latihan ASEAN Para Games 2025 di 80th Birthday Anniversary Commemorative Stadium, Nakhon Rachatsima, Thailand, Minggu (25/1/2026). NPC Indonesia/Yoma Times Suryadi

Berita Terkait

Official Partner

Bayan Peduli Bayan Resources

Supported by

Yayasan Inklusi Pelita Bangsa

Apparel Powered by

Mills