shape
Pencarian
pattern pattern

Kisah Pemuda Wonogiri Manfaatkan Program Mendobrak Batas untuk Berprestasi di Asian Youth Para Games 2025

10 Desember 2025
Share:
Link berhasil disalin!
news-

Tak pernah ada dalam benak Imam Nur Shaleh bahwa suatu saat ia akan terbang ke luar negeri sebagai seorang atlet yang mewakili nama Indonesia. Namun, program pencarian atlet disabilitas bertajuk "Mendobrak Batas" yang diselenggarakan oleh National Paralympic Committee of Indonesia (NPC Indonesia) dapat mengubah hidupnya.


Pada 16 Mei 2025 lalu, pemuda berusia 17 tahun asal Jatisrono, kabupaten Wonogiri ini mengikuti program Mendobrak Batas untuk provinsi Jawa Tengah di Gedung Olahraga FKOR Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS).


Dari program tersebut, ia teridentifikasi memenuhi klasifikasi dan keberbakatan sebagai atlet para angkat berat yang kemudian dibina oleh NPCI Jawa Tengah melalui Program Jangka Panjang Atlet Potensial (PJPAP). Lima bulan yang lalu, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia mencoba mengangkat beban didampingi seorang pelatih.


"Sebelum adanya program mendobrak batas, kegiatan saya ya hanya main sama teman-teman, bersekolah dan aktivitas rumahan saja. Tidak ada pikiran untuk menjadi seorang atlet, apalagi sampai bertanding di luar negeri," kata Shaleh saat diwawancara di Dubai Club For People of Determination, Rabu (10/12/25).


Ia pun merasakan beratnya tantangan menjadi seorang atlet para angkat berat. Ia dituntut untuk konsisten dan pantang menyerah meski badannya terasa pegal-pegal setiap kali menyelesaikan latihan.


"Awal-awal itu tangan rasanya pegal-pegal banget, karena selama ini belum pernah olahraga angkat beban. Tetapi setelah berjalannya waktu saya mulai terbiasa dan menjadi bersemangat dalam latihan," jelas Shaleh.


Setelah momen pegal-pegal terlewati, musuh terberat berikutnya adalah melawan kemalasan. Shaleh merasa beruntung selama lima bulan ini berada di lingkungan yang terus mendukungnya untuk terus berkembang.


"Tantangan paling berat itu melawan kemalasan. Cara melawannya adalah dengan memotivasi diri sendiri bahwa saya bisa," tutur Shaleh.


Ajang empat tahunan, Asian Youth Para Games 2025, memberinya kesempatan untuk bertarung di luar negeri. Shaleh untuk pertama kalinya terbang meninggalkan Indonesia untuk mengikuti ajang tersebut di Dubai, Uni Emirat Arab. Shaleh turun di kelas -54 kilogram putra kategori rookie.


"Saya tidak menyangka sekarang bisa bertanding di luar negeri karena saya baru berlatih lima bulan, pengalamannya belum seberapa dan belum sangat mengenal para angkat berat," ungkap Shaleh.


Shaleh pun merasa terharu ketika berjalan memasuki venue para angkat berat dan melihat atlet-atlet muda terbaik Asia berada di hadapannya. Meski sempat merasa grogi, Shaleh pada akhirnya bisa menunjukkan performa terbaiknya.


Shaleh mencatatkan angkatan terbaik seberat 85 kilogram dalam pertandingan yang dilaksanakan di Dubai Club for People of Determination pada hari Rabu (10/12/25) pukul 13.00 waktu setempat. Angkatan itu sudah cukup untuk membuatnya meraih medali perak.


"Saya terharu karena di pertandingan ini main dengan atlet-atlet Asia. Saya sempat berpikir 'kok bisa ya meraih medali padahal baru berlatih lima bulan'. Dari awal saya tidak berekspektasi untuk dapat medali," ungkap Shaleh.


Sebelum bertanding, Shaleh terlebih dahulu menghubungi keluarganya untuk meminta doa dan dukungan agar diberikan kelancaran. Doa itu pada akhirnya terbukti manjur karena Shaleh bisa mendapatkan medali perak.


"Medali ini saya persembahkan kepada keluarga, tim pelatih, NPC Indonesia dan seluruh masyarakat Indonesia. Saya akan berlatih lebih giat lagi agar bisa meraih prestasi yang lebih tinggi lagi," tegasnya.


Shaleh pun optimistis bisa mengejar angkatan sang peraih medali emas kategori rookie asal Uzbekistan, Bahriddin Kholbutaev yang mencatatkan angkatan terbaik 105 kilogram. Sementara catatan terberat kategori nextgen adalah 146 kilogram oleh atlet asal Mongolia, Jigmed Davaa Ochir.


"Insya Allah kalau latihannya penuh semangat, saya yakin bisa (mengejar)," ucap Shaleh.


Sementara itu, pelatih para angkat berat Indonesia, Coni Ruswanta, mengapresiasi keberhasilan Shaleh meraih medali perak. Sebelum pertandingan ini tim pelatih tak membebani Shaleh untuk meraih medali.


"Saya melihat pesaingnya di kelas -54 kilogram ini berat-berat karena mungkin mereka sudah berlatih lebih lama, sementara atlet kita mungkin baru berlatih lima bulan. Raihan Shaleh ini menjadi kejutan tersendiri," ungkap Coni Ruswanta.


Coni pun berharap raihan ini menjadi pelecut semangat bagi Shaleh maupun atlet-atlet jebolan Mendobrak Batas untuk meraih prestasi terbaik. Di ajang Asian Youth Para Games 2025, ada 13 atlet jebolan Mendobrak Batas yang diberangkatkan ke Dubai, Uni Emirat Arab.


Program Mendobrak Batas per Desember 2025 telah berhasil mendata lebih dari 2.600 atlet yang berasal dari 19 provinsi. Program NPC Indonesia ini ditargetkan bisa menjangkau 35 provinsi.

Berita Terkait

Official Partner

Bayan Peduli Bayan Resources

Supported by

Yayasan Inklusi Pelita Bangsa

Apparel Powered by

Mills