SOLO - Tim para balap sepeda Indonesia sukses mengamankan tujuh medali saat mengikuti kejuaraan dunia bertajuk Korea Para-cycling Track Cup 2026 di Kota Yangyang, Korea Selatan, pada 7-8 Juli 2026.
Empat medali emas disumbangkan oleh Tifan Abid Alana dari nomor men elite Individual Pursuit (IP) klasifikasi C2 dan men elite 1000 meter Individual Time Trial (ITT) C2 serta Muhammad Fadli Imammuddin dari nomor men elite IP C4 dan men elite 1000 meter ITT C4.
Sementara tiga medali perak diraih oleh Sufyan Saori dari nomor men elite IP dan 1000 meter ITT klasifikasi C5 serta pasangan tandem Nur Fendi/ Mufti Fadilah Salma dari nomor Individual Pursuit B (blind).
Raihan tujuh medali dalam kejuaraan level dua para balap sepeda dunia ini menjadi kabar positif dalam perjalanan menuju Asian Para Games 2026. Pelatih Para Balap Sepeda Indonesia, Rizan Setyo Nugroho, mengatakan persaingan di setiap nomor perlombaan sangat ketat.
"Ini raihan yang cukup impresif, salah satunya dengan keberhasilan Fendi yang mampu mendapatkan medali di sini. Persaingan di nomor blind sangat ketat karena tuan rumah Korea dan juga Malaysia memiliki kualitas di nomor men blind," kata Rizan Setyo, Kamis (9/7/2026).
Indonesia juga memiliki keuntungan lainnya ketika mengikuti kejuaraan ini. Rizan mengatakan tim pelatih bisa melihat kekuatan dari calon-calon pesaing utama di Asian Para Games 2026.
Saat ini, Indonesia sudah memenuhi target dengan meloloskan lima atlet menuju multievent yang akan digelar di Nagoya, Jepang, pada bulan Oktober mendatang.
"Pesaing di Asian Para Games nanti tentunya dari China, Malaysia, Uzbekistan, Kazakhstan dan tuan rumah Jepang. Mereka memiliki kekuatan di tingkat Asia. Kebetulan saat di sini kita sudah bersaing ketat dengan Korea dan Malaysia yang punya kualitas, khususnya nomor blind," tutur Rizan.
"Dari perlombaan ini kita sudah pemetaan waktu untuk calon calon lawan kita. Jadi kita sudah memiliki gambaran tentang nomor-nomor pertandingan yang akan kita targetkan di sana," imbuhnya.
Sementara itu, Nur Fendi yang berhasil membuat kejutan di Korea Selatan mengaku belum puas dengan catatan saat ini. Ia menyadari persaingan di nomor blind, baik itu IP maupun ITT sama-sama super ketat.
"Di sini kita punya strategi khusus yang diatur sama pilot saya. Di nomor 1000 meter memang kita ngga all out karena tipe saya dan pilot saya sama-sama nomor jauh. Jadi kita all out di nomor yang 4000 meter," jelas Fendi.
Nur Fendi bersama sang pilot, Mufti Fadilah, siap berlatih lebih keras lagi menuju Asian Para Games 2026. Masih ada waktu sekitar tiga bulan sebelum bertarung di Jepang.
"Saat ini kesiapan saya kalau dihitung persentase masih di angka 80 persen. Masih banyak yang harus dievaluasi dari kejuaraan ini, karena target di Asian Para Games nanti saya ingin mendapatkan medali di IP 4000 dan ITT," ungkap Fendi.
Sebelum bersaing di Asian Para Games 2026, Nur Fendi dkk. masih memiliki satu agenda kejuaraan lagi di Malaysia. Kemungkinan besar mayoritas atlet-atlet level satu Asia akan saling beradu kekuatan di Malaysia bulan September mendatang.